Kota Seribu Sungai

Kota Seribu Sungai
Jembatan Barito Kota Seribu Sungai

Kamis, 30 September 2010

KRITERIA PENILAIAN SIFAT KIMIA TANAH (BAG. II)

K2O HCl 25%
Nilai K2O (mg/100g) dalam tanah yang terukur dengan metode HCl 25%, dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk mg K2O/100 g tanah <> 40.


Susunan Kation (K-dd, Na-dd, Mg-dd, dan Ca-dd):

K-dd (me/100g)
Nilai Kalium dapat ditukar atau K-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai K-dd (mg/100 g) <> 1,0.

Na-dd (me/100g)
Nilai Natrium dapat ditukar atau Na-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai Na-dd (mg/100 g) <> 1,0.

Mg-dd (me/100g)
Nilai Magnesium dapat ditukar atau Mg-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) <> 8,0.

Ca-dd (me/100g)
Nilai Kalsium dapat ditukar atau Ca-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) <> 20.

Kejenuhan Basa (%)
Nilai prosentase kejenuhan basa tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk Kej. Basa (%) <> 8,5.

AKBAR_04_ILMU_TANAH_UNLAM


Sumber Pustaka:
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Melton Putra. Jakarta. 233 Halaman

SIFAT KIMIA TANAH

Beberapa sifat kimia tanah yang penting diketahui, meliputi:
(a) reaksi tanah atau pH tanah,
(b) koloid tanah,
(c) kandungan C-organik tanah,
(d) N-total tanah,
(e) C/N tanah,
(f) P-total tanah,
(g) P-tersedia tanah,
(h) kation-kation basa tanah, meliputi: K, Na, Ca, dan Mg,
(i) kation asam tanah, meliputi: Al, Fe dan H,
(j) kapasitas tukar kation total tanah atau KTK-total tanah,
(k) kapasitas tukar kation efektif tanah atau KTK-efektif tanah,
(l) kejenuhan basa tanah (%),
(m) kejenuhan aluminium tanah (%), dan
(n) kandungan bahan organik tanah.

KADAR DAN SERAPAN UNSUR HARA ESSENSIAL BERBAGAI TANAMAN

Kadar dan serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman sangat bervariasi. Kadar dan serapan unsur hara essensial tanaman pangan berbeda dengan tanaman buah-buahan dan tanaman sayur-sayuran serta tanaman industri. Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman jagung berbeda dengan tanaman padi, kacang tanah dan kedelai. Kadar dan serapan unsur hara essensial pada jerami atau bagian vegetatif berbeda dengan pada biji atau bagian generatif.

Data kadar dan serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman yang meliputi: (a) tanaman pangan, (b) tanaman buah-buahan, (c) tanaman sayur-sayuran, dan (d) tanaman industri, disajikan dalam uraian berikut:

A. Tanaman Pangan:
Data kadar dan serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman pangan yaitu meliputi: (a) tanaman jagung, (b) tanaman padi, (c) tanaman kacang tanah, dan (d) tanaman kedelai, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Jagung:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman jagung pada bagian biji dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(1.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Biji Jagung:
(a) Hasil : 5,34 ton/ha
(b) Serapan N : 151,30 kg/ha Kadar N : 2,83 %
(c) Serapan P : 25,80 kg/ha Kadar P : 0,48 %
(d) Serapan K : 37,00 kg/ha Kadar K : 0,69 %
(e) Serapan Ca : 17,90 kg/ha Kadar Ca : 0,37 %
(f) Serapan Mg : 22,40 kg/ha Kadar Mg : 0,42 %
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha Kadar S : 0,29 %
(h) Serapan Co : 0,067 kg/ha Kadar Co : 12,50 ppm
(i) Serapan Mn : 0,101 kg/ha Kadar Mn :189,00 ppm
(j) Serapan Zn : 0,168 kg/ha Kadar Zn : 31,50 ppm

(1.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Jagung:
(a) Bobot : 5,00 ton/ha
(b) Serapan N : 112,10 kg/ha Kadar N : 2,24 %
(c) Serapan P : 17,90 kg/ha Kadar P : 0,36 %
(d) Serapan K : 134,50 kg/ha Kadar K : 2,69 %
(e) Serapan Ca : 31,40 kg/ha Kadar Ca : 0,63 %
(f) Serapan Mg : 19,10 kg/ha Kadar Mg : 0,38 %
(g) Serapan S : 11,20 kg/ha Kadar S : 0,22 %
(h) Serapan Co : 0,056 kg/ha Kadar Co : 11,20 ppm
(i) Serapan Mn : 1,681 kg/ha Kadar Mn : 319,00 ppm
(j) Serapan Zn : 0,336 kg/ha Kadar Zn : 67,20 ppm

(1.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Jagung:
(a) Kadar N : 2,55 %
(b) Kadar P : 0,42 %
(c) Kadar K : 1,66 %
(d) Kadar Ca : 0,48 %
(e) Kadar Mg : 0,40 %
(f) Kadar S : 0,26 %
(g) Kadar Co : 11,90 ppm
(h) Kadar Mn : 17,20 ppm
(i) Kadar Zn : 48,70 ppm


(2) Tanaman Padi:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman padi pada gabah dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(2.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial dalam Gabah:
(a) Hasil : 2,85 ton/ha
(b) Serapan N : 56,00 kg/ha Kadar N : 1,96 %
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha Kadar P : 3,54 %
(d) Serapan K : 9,00 kg/ha Kadar K : 0,32 %
(e) Serapan Ca : 3,40 kg/ha Kadar Ca : 0,12 %
(f) Serapan Mg : 4,50 kg/ha Kadar Mg : 0,16 %
(g) Serapan S : 3,40 kg/ha Kadar S : 0,12 %
(h) Serapan Co : 0,011 kg/ha Kadar Co : 3,86 ppm
(i) Serapan Mn : 0,090 kg/ha Kadar Mn : 31,60 ppm
(j) Serapan Zn : 0,078 kg/ha Kadar Zn : 27,40 ppm

(2.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Padi:
(a) Bobot : 2,80 ton/ha
(b) Serapan N : 33,60 kg/ha Kadar N : 1,20 %
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha Kadar P : 0,20 %
(d) Serapan K : 65,00 kg/ha Kadar K : 2,32 %
(e) Serapan Ca : 10,10 kg/ha Kadar Ca : 0,36 %
(f) Serapan Mg : 5,60 kg/ha Kadar Mg : 0,20 %
(g) Serapan S : ------ kg/ha Kadar S : ----- %
(h) Serapan Co : ------ kg/ha Kadar Co : ----- ppm
(i) Serapan Mn : 1,771 kg/ha Kadar Mn : 632 ppm
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha Kadar Zn : ------ ppm

(2.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Padi:
(a) Kadar N : 1,59 %
(b) Kadar P : 0,28 %
(c) Kadar K : 1,26 %
(d) Kadar Ca : 0,24 %
(e) Kadar Mg : 0,18 %
(f) Kadar S : ----- %
(g) Kadar Co : ----- ppm
(h) Kadar Mn : 329 ppm
(i) Kadar Zn : ----- ppm


(3) Tanaman Kacang Tanah:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman kedelai pada polong dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(3.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Polong Kacang Tanah:
(a) Hasil : 1,25 ton/ha
(b) Serapan N : 100,90 kg/ha Kadar N : 8,07 %
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha Kadar P : 0,49 %
(d) Serapan K : 14,60 kg/ha Kadar K : 1,17 %
(e) Serapan Ca : 1,10 kg/ha Kadar Ca : 0,09 %
(f) Serapan Mg : 3,40 kg/ha Kadar Mg : 0,27 %
(g) Serapan S : 6,70 kg/ha Kadar S : 0,54 %
(h) Serapan Co : 0,022 kg/ha Kadar Co : 17,60 ppm
(i) Serapan Mn : 0,011 kg/ha Kadar Mn : 8,80 ppm
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha Kadar Zn : ----- ppm

(3.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Kacang Tanah:
(a) Bobot : 2,50 ton/ha
(b) Serapan N : 117,70 kg/ha Kadar N : 4,71 %
(c) Serapan P : 12,30 kg/ha Kadar P : 0,49 %
(d) Serapan K : 88,60 kg/ha Kadar K : 3,54 %
(e) Serapan Ca : 50,40 kg/ha Kadar Ca : 2,02 %
(f) Serapan Mg : 19,10 kg/ha Kadar Mg : 0,08 %
(g) Serapan S : 17,90 kg/ha Kadar S : 0,72 %
(h) Serapan Co : ------ kg/ha Kadar Co : ------ ppm
(i) Serapan Mn : 0,258 kg/ha Kadar Mn : 103,20 ppm
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha Kadar Zn : ------ ppm

(3.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Kacang Tanah:
(a) Kadar N : 5,83 %
(b) Kadar P : 0,48 %
(c) Kadar K : 2,75 %
(d) Kadar Ca : 1,37 %
(e) Kadar Mg : 0,06 %
(f) Kadar S : 0,66 %
(g) Kadar Co : ---- ppm
(h) Kadar Mn : 71,70 ppm
(i) Kadar Zn : ----- ppm


(4) Tanaman Kedelai:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman kedelai pada bagian biji dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(4.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Biji Kedelai:
(a) Hasil : 1,22 ton/ha
(b) Serapan N : 168,10 kg/ha Kadar N : 13,77 %
(c) Serapan P : 17,90 kg/ha Kadar P : 1,47 %
(d) Serapan K : 51,60 kg/ha Kadar K : 4,23 %
(e) Serapan Ca : 7,80 kg/ha Kadar Ca : 0,64 %
(f) Serapan Mg : 7,80 kg/ha Kadar Mg : 0,64 %
(g) Serapan S : 4,50 kg/ha Kadar S : 0,37 %
(h) Serapan Co : 0,045 kg/ha Kadar Co : 36,90 ppm
(i) Serapan Mn : 0,056 kg/ha Kadar Mn : 45,90 ppm
(j) Serapan Zn : 0,045 kg/ha Kadar Zn : 36,90 ppm

(4.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Kedelai:
(a) Bobot : 2,24 ton/ha
(b) Serapan N : 100,90 kg/ha Kadar N : 4,50 %
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha Kadar P : 0,45 %
(d) Serapan K : 47,10 kg/ha Kadar K : 2,10 %
(e) Serapan Ca : 44,80 kg/ha Kadar Ca : 2,00 %
(f) Serapan Mg : 20,20 kg/ha Kadar Mg : 0,90 %
(g) Serapan S : 11,20 kg/ha Kadar S : 0,50 %
(h) Serapan Co : 0,045 kg/ha Kadar Co : 20,10 ppm
(i) Serapan Mn : 0,516 kg/ha Kadar Mn :230,40 ppm
(j) Serapan Zn : 0,168 kg/ha Kadar Zn : 75,00 ppm

(4.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Kedelai:
(a) Kadar N : 7,77 %
(b) Kadar P : 0,81 %
(c) Kadar K : 2,85 %
(d) Kadar Ca : 1,52 %
(e) Kadar Mg : 0,81 %
(f) Kadar S : 0,45 %
(g) Kadar Co : 26,00 ppm
(h) Kadar Mn :157,10 ppm
(i) Kadar Zn : 61,56 ppm


B. Tanaman Buah-Buahan:
Data serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman buah-buahan yaitu meliputi: (a) tanaman apel, dan (b) tanaman jeruk, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Apel:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman apel pada buah apel disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 5,08 ton/ha
(b) Serapan N : 33,60 kg/ha
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha
(d) Serapan K : 41,50 kg/ha
(e) Serapan Ca : 9,00 kg/ha
(f) Serapan Mg : 5,60 kg/ha
(g) Serapan S : 11,20 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,034 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,034 kg/ha


(2) Tanaman Jeruk:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman jeruk pada buah jeruk disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 70,40 ton/ha
(b) Serapan N : 95,30 kg/ha
(c) Serapan P : 14,60 kg/ha
(d) Serapan K : 130,00 kg/ha
(e) Serapan Ca : 37,00 kg/ha
(f) Serapan Mg : 13,40 kg/ha
(g) Serapan S : 10,10 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,220 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,067 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,269 kg/ha


C. Tanaman Sayur-Sayuran:
Data serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman sayur-sayuran, yaitu meliputi: (a) tanaman buncis, (b) tanaman kol, (c) tanaman bayam, (d) tanaman bawang putih, (e) tanaman kentang, (f) tanaman tomat, dan (g) tanaman lobak, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Buncis:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman buncis pada buncis kering disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 0,91 ton/ha
(b) Serapan N : 84,10 kg/ha
(c) Serapan P : 12,30 kg/ha
(d) Serapan K : 23,50 kg/ha
(e) Serapan Ca : 2,20 kg/ha
(f) Serapan Mg : 2,20 kg/ha
(g) Serapan S : 5,60 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,022 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,034 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,067 kg/ha


(2) Tanaman Kol:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman kol disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 22,40 ton/ha
(b) Serapan N : 145,70 kg/ha
(c) Serapan P : 17,90 kg/ha
(d) Serapan K : 121,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 22,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 9,30 kg/ha
(g) Serapan S : 51,20 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,047 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,112 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,093 kg/ha


(3) Tanaman Bayam:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman bayam disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 5,60 ton/ha
(b) Serapan N : 56,00 kg/ha
(c) Serapan P : 7,80 kg/ha
(d) Serapan K : 28,00 kg/ha
(e) Serapan Ca : 13,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 5,60 kg/ha
(g) Serapan S : 4,50 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,022 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,112 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,112 kg/ha

(4) Tanaman Bawang Putih:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman bawang putih dalam bagian siung bawang putih disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 8,40 ton/ha
(b) Serapan N : 50,40 kg/ha
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha
(d) Serapan K : 37,00 kg/ha
(e) Serapan Ca : 12,30 kg/ha
(f) Serapan Mg : 2,20 kg/ha
(g) Serapan S : 20,20 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,067 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,034 kg/ha


(5) Tanaman Kentang:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman kentang pada bagian umbi tanaman disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot Umbi : 10,16 ton/ha
(b) Serapan N : 89,70 kg/ha
(c) Serapan P : 14,60 kg/ha
(d) Serapan K : 140,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 9,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 6,70 kg/ha
(g) Serapan S : 6,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,045 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,101 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,056 kg/ha


(6) Tanaman Tomat:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman tomat dalam buah tomat disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot Buah : 22,40 ton/ha
(b) Serapan N : 134,50 kg/ha
(c) Serapan P : 20,20 kg/ha
(d) Serapan K : 149,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 7,80 kg/ha
(f) Serapan Mg : 12,30 kg/ha
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,078 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,146 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,179 kg/ha


(7) Tanaman Lobak:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman lobak pada akar (umbi) tanaman disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot : 11,20 ton/ha
(b) Serapan N : 50,40 kg/ha
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha
(d) Serapan K : 84,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 13,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 6,70 kg/ha
(g) Serapan S : ------ kg/ha
(h) Serapan Co : ------ kg/ha
(i) Serapan Mn : ------ kg/ha
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha



D. Tanaman Industri:
Data serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman industri, yaitu meliputi: (a) tanaman tembakau, (b) tanaman tebu, dan (c) tanaman kapuk, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Tembakau:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman tembakau pada bagian daun dan tangkai tanaman disajikan sebagai berikut:

(1.1) Daun Tembakau:
(a) Bobot : 1,02 ton/ha
(b) Serapan N : 84,10 kg/ha
(c) Serapan P : 7,80 kg/ha
(d) Serapan K : 112,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 84,10 kg/ha
(f) Serapan Mg : 20,20 kg/ha
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,617 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,078 kg/ha

(1.2) Tangkai dari Daun Tembakau:
(a) Bobot : ------ ton/ha
(b) Serapan N : 39,20 kg/ha
(c) Serapan P : 7,80 kg/ha
(d) Serapan K : 47,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : ------ kg/ha
(f) Serapan Mg : ------ kg/ha
(g) Serapan S : ------ kg/ha
(h) Serapan Co : ------ kg/ha
(i) Serapan Mn : ------ kg/ha
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha


(2) Tanaman Tebu:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman tebu pada bagian batang tanaman disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot : 33,60 ton/ha
(b) Serapan N : 107.60 kg/ha
(c) Serapan P : 26,90 kg/ha
(d) Serapan K : 251,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 31,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 26,90 kg/ha
(g) Serapan S : 26,90 kg/ha
(h) Serapan Co : ------ kg/ha
(i) Serapan Mn : ------ kg/ha
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha


(3) Tanaman Kapuk:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman kapuk dalam biji dan tangkai daun adalah sebagai berikut:

(3.1) Biji kapas:
(a) Hasil / Bobot : 0,76 ton/ha
(b) Serapan N : 44,80 kg/ha
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha
(d) Serapan K : 14,60 kg/ha
(e) Serapan Ca : 84,10 kg/ha
(f) Serapan Mg : 20,20 kg/ha
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,617 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,078 kg/ha

(3.2) Tangkai Daun, Burs:
(a) Bobot : 1,02 ton/ha
(b) Serapan N : 39,20 kg/ha
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha
(d) Serapan K : 32,50 kg/ha
(e) Serapan Ca : 31,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 9,00 kg/ha
(g) Serapan S : ------ kg/ha
(h) Serapan Co : ------ kg/ha
(i) Serapan Mn : ------ kg/ha
(j) Serapan Zn : ------ kg/ha



Urutan Kadar Unsur Hara Essensial dalam Tanaman:

Menurut Jones et al. (1991) dalam Hanafiah (2005) bahwa kadar unsur hara essensial makro dan mikro pada tanaman secara berurutan dari kadar tertinggi sampai dengan terendah berdasarkan perbandingan bobot kering adalah sebagai berikut:
(1) Karbon (45%) hampir sama dengan nomor (2)
(2) Hidrogen (45%)
(3) Oksigen (6%)
(4) Nitrogen (1,5%)
(5) Kalium (1,0%)
(6) Kalsium (0,5%)
(7) Fosfor (0,2%) hampir sama dengan nomor (8)
(8) Magnesium (0,2%)
(9) Belerang (0,1%)
(10) Klor (100 mg/kg) hampir sama dengan nomor (9)
(11) Besi (100 mg/kg)
(12) Boron (50 mg/kg)
(13) Mangan (20 mg/kg) hampir sama dengan nomor (14)
(14) Seng (20 mg/kg)
(15) Tembaga (6 mg/kg)
(16) Molibdenum (0,1 mg/kg).

Akbar_04_Ilmu_Tanah_UNLAM

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/.

Foth. D.H. 1984. Fundamental of Soil Science. John Wiley & Sons. Inc. Singapore.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halaman.

Rabu, 29 September 2010

Tanaman membutuhkan hara mikro dalam kisaran kecukupan yang beragam. Berikut ini disajikan kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial dari dari berbagai tanaman:


A. Tanaman Pangan

(1) Tanaman Padi (Oryza sativa L.):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman padi bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 5 s/d 15 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 8 s/d 25 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 70 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 150 s/d 800 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 18 s/d 50 mg/kg.


(2) Tanaman Jagung (Zea mays L.):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jagung bagian pucuk, daun tua, dan daun bendera, adalah sebagai berikut:

(2.1) Pada Bagian Pucuk Tanaman Jagung:(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 5 s/d 25 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 20 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 50 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 mg/kg s/d 60 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 10 mg/kg.

(2.2) Pada Bagian Daun Tua Tanaman Jagung:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 4 s/d 25 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 3 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 10 s/d 20 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 15 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 60 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 3 mg/kg.

(2.3) Pada Bagian Daun Bendera Tanaman Jagung:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 5 s/d 25 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 6 s/d 20 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 21 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 25 s/d 100 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): > 0,2 mg/kg..


(3) Tanaman Kedelai (Glycine max):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kedelai bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 21 s/d 55 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 10 s/d 30 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 51 s/d 350 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 21 s/d 100 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 21 s/d 50 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 1 s/d 5 mg/kg.


(4) Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kacang tanah bagian trubus, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 60 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 50 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 60 s/d 350 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 60 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 5,0 mg/kg.


(5) Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculeta):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman ubi kayu bagian daun muda dan pangkal batang, adalah sebagai berikut:

(5.1) Pada Bagian Daun Muda Tanaman Ubi Kayu:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 15 s/d 20 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 7 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 250 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 40 s/d 100 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.

(5.2) Pada Bagian Pangkal Batang Tanaman Ubi Kayu:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 33 s/d 40 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 6 s/d 7 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 82 s/d 150 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 40 s/d 70 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 33 s/d 43 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


B. Tanaman Sayur-Sayuran:

(1) Tanaman Kacang Panjang (Phaseolus vulgaris):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kacang panjang bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 7 s/d 30 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 50 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(2) Tanaman Brokoli (Brassica oleraceae):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman brokoli bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 30 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 70 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 35 s/d 300 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(3) Tanaman Kol (Brassica oleraceae capitata):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kol bagian pucuk dan daun buah, adalah sebagai berikut:

(3.1) Pada Bagian Pucuk Tanaman Kol:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 30 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 25 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.

(3.2) Pada Bagian Daun Buah Tanaman Kol:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 30 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,4 s/d 1,0 mg/kg.


C. Tanaman Buah-Buahan:

(1) Tanaman Mangga (Mangifera indica):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman mangga bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 7 s/d 50 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 50 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 250 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(2) Tanaman Jeruk Orange (Citrus sinensis):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jeruk orange bagian daun tua, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 100 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 150 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 25 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 3,9 mg/kg.


(3) Tanaman Jeruk Lemon (Citrus lemon):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jeruk lemon bagian daun, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 200 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 100 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 100 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 50 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,3 s/d 3,0 mg/kg.


(4) Tanaman Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jeruk nipis bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 30 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 100 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(5) Tanaman Pepaya (Carica papaya):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman pepaya bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 30 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 4 s/d 10 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 25 s/d 100 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 150 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 40 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(6) Tanaman Pisang (Musa sp.):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman pisang bagian daun muda dan daun tua, adalah sebagai berikut:

(6.1) Pada Bagian Daun Muda Tanaman Pisang:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 15 s/d 50 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 6 s/d 30 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 100 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 200 s/d 2000 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 13 s/d 50 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.

(6.2) Pada Bagian Daun Tua Tanaman Pisang:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 10 s/d 50 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 25 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 76 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 100 s/d 1000 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(7) Tanaman Nenas (Ananas comosus):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman nenas bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B):
lebih dari 30 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu):
kurang dari 10 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe):
100 mg/kg s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn):
50 mg/kg s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn):
lebih dari 20 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo):
--- mg/kg.


D. Tanaman Perkebunan (Industri):

(1) Tanaman Karet (Ficus benyamina):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman karet bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 30 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 8 s/d 25 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 30 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(2) Tanaman Kopi (Coffea arabica):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kopi bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 10 s/d 50 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 90 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): --- mg/kg.


(3) Tanaman Tebu (Saccharum officinarum):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman tebu bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 4 s/d 30 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 40 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 400 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 100 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo):
0,05 mg/kg s/d 4,0 mg/kg.


(4) Tanaman Tembakau (Nicotiana tobaccum):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman tembakau bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 14 s/d 50 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu):
10 mg/kg s/d 60 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe):
59 mg/kg s/d 530 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn):
26 mg/kg s/d 400 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn):
17 mg/kg s/d 110 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo):
0,4 mg/kg s/d 0,6 mg/kg.

Akbar_04_Ilmu_Tanah_UNLAM

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halaman.

KADAR HARA MIKRO TANAMAN

Kadar hara mikro (g/ha) pada berbagai tanaman berbeda-beda dan sangat tergantung dengan jenis tanaman dan bagian tanaman yang dianalisis. Kadar hara mikro pada bagian jerami tanaman berbeda dengan kadar hara mikro pada bagian biji, gabah, polong, buah, siung, umbi, dan daun. Beberapa hasil analisis kadar hara mikro pada beberapa tanaman meliputi: (a) tanaman pangan, (b) tanaman buah-buahan, (c) tanaman sayur-sayuran, dan (d0 tanaman industri, disajikan sebagai berikut:

A. Tanaman Pangan
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman pangan meliputi: (1) tanaman padi, (b) tanaman jagung, (3) tanaman kedelai, dan (4) tanaman kacang tanah, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Padi:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman padi pada Gabah dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(1.1). Kadar Hara Mikro pada Gabah Padi:
(a) Hasil Gabah: 2,85 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 11 g/ha dan 3,86 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 11 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 90 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 78 g/ha

(1.2). Kadar Hara Mikro pada Jerami Padi:
(a) Hasil Gabah : 2,80 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : --- g/ha dan ----- g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : --- g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 1.771 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : --- g/ha


(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Jagung:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman Jagung dalam bentuk biji pipilan kering dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Jagung:
(a) Hasil Biji Pipilan Kering Jagung: 5,34 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 67 g/ha dan 12,55 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 67 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 101 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 168 g/ha

(2.2) Kadar Hara Mikro pada Jerami Tanaman Jagung:
(a) Hasil Biji Pipilan Kering Jagung : 5,00 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 56 g/ha dan 11,20 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 56 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 1.681 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 336 g/ha


(3) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kedelai:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman Kedelai dalam bentuk biji dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(3.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Kedelai:
(a) Hasil Biji Kedelai : 1,22 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 45 g/ha dan 36,88 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 45 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 56 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 45 g/ha

(3.2) Kadar Hara Mikro pada Jerami Tanaman Kedelai:
(a) Hasil Jerami Tanaman Kedelai : 2,24 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : --- g/ha dan 20,09 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 45 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 516 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 168 g/ha


(4) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kacang Tanah:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman Kacang Tanah berupa polong dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(4.1) Kadar Hara Mikro pada Polong Kacang Tanah:
(a) Hasil Polong Kacang Tanah : 1,25 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 22 g/ha dan 17,60 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 22 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 11 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : --- g/ha

(4.2) Kadar Hara Mikro pada Jerami Tanaman Kacang Tanah:
(a) Hasil Jerami Tanaman Kacang Tanah : 2,50 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : --- g/ha dan --- g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : --- g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 258 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : --- g/ha


B. Tanaman Buah-Buahan
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman buah-buahan meliputi: (1) tanaman apel, dan (2) tanaman jeruk, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Apel:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman apel berupa buah apel, disajikan sebagai berikut:

(1.1) Kadar Hara Mikro pada Buah Apel:
(a) Hasil Buah Apel : 5,08 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 6,69 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 34 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 34 g/ha


(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Jeruk:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman jeruk berupa buah jeruk, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Buah Jeruk:
(a) Hasil Buah Jeruk : 70,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 220 g/ha dan 3,125 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 220 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 67 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 269 g/ha


C. Tanaman Sayur-Sayuran
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman sayur-sayuran meliputi: (1) tanaman bayam, (2) tanaman tomat, (3) tanaman buncis, (4) tanaman kol, (5) bawang putih, (6) tanaman kentang, dan (7) tanaman kentang manis, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Bayam:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman bayam berupa bayam utuh, disajikan sebagai berikut:

(1.1) Kadar Hara Mikro pada Bayam:
(a) Hasil Bayam Utuh : 5,60 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 22 g/ha dan 3,93 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 22 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 112 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 112 g/ha


(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Tomat:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman tomat berupa buah tomat, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Buah Tomat:
(a) Hasil Buah Tomat : 22,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 78 g/ha dan 3,48 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 78 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 146 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 179 g/ha

(3) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Buncis:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman buncis berupa biji buncis, disajikan sebagai berikut:

(3.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Buncis:
(a) Hasil Biji Buncis : 0,91 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 22 g/ha dan 24,18 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 22 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 34 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 67 g/ha


(4) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kol:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kol berupa bagian atas tanaman (kecuali akar) atau shoot, disajikan sebagai berikut:

(4.1) Kadar Hara Mikro pada Bagian Atas Tanaman Kol (Shoot):
(a) Hasil Bagian Atas Tanaman Kol : 22,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 47 g/ha dan 24,18 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 47 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 112 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 93 g/ha

(5) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Bawang Putih:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman bawang putih berupa siung bawang putih, disajikan sebagai berikut:

(5.1) Kadar Hara Mikro pada Bawang Putih:
(a) Hasil Siung Bawang Putih : 8,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 4,05 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 67 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 34 g/ha


(6) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kentang:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kentang berupa umbi kentang, disajikan sebagai berikut:

(6.1) Kadar Hara Mikro pada Umbi Kentang:
(a) Hasil Umbi Kentang : 10,16 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 45 g/ha dan 4,43 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 45 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 101 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 56 g/ha

(7) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kentang Manis:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kentang manis berupa umbi kentang manis, disajikan sebagai berikut:

(7.1) Kadar Hara Mikro pada Umbi Kentang Manis:
(a) Hasil Umbi Kentang Manis : 7,60 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 4,47 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 67 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 34 g/ha


D. Tanaman Industri
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman industri, meliputi: (1) tanaman tembakau untuk industri rokok, dan (2) tanaman kapuk untuk industri mebeler, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Tembakau:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman tembakau berupa daun tembakau, disajikan sebagai berikut:

(1.1) Kadar Hara Mikro pada Daun Tembakau:
(a) Hasil Daun Tembakau : 1,02 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 33,33 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 617 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 78 g/ha


(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kapuk:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kapuk berupa biji kapuk, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Kapuk:
(a) Hasil Biji Kapuk : 0,76 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 44,74 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 617 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 78 g/ha

Akbar_04_Ilmu_Tanah_UNLAM

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halaman.

MINERAL TANAH

Bahan mineral tanah merupakan bahan anorganik tanah yang terdiri dari berbagai ukuran, komposisi dan jenis mineral. Mineral tanah berasal dari hasil pelapukan batuan-batuan yang menjadi bahan induk tanah. Pada mujlanya batuan dari bahan induk tanah mengalami proses pelapukan dan menghasilkan regolit. Pelapukan lebih lanjut menghasilkan tanah dengan tektur masih kasar.

Ukuran mineral tanah sangat beragam mulai dari ukuran sangat kasar sampai dengan ukuran yang sangat halus seperti mineral liat. Mineral liat hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Sifat mineral liat ditentukan dari:
(1) susunan kimia pembentuknya yang tetap dan tertentu, terutama berkaitan dengan penempatan internal atom-atomnya,
(2) sifat fisiko-komia dengan batasan waktu tertentu, dan
(3) kecendrungan membentuk geometris tertentu.

Komposisi mineral dalam tanah sangat tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut:
(1) jenis batuan induk asalnya,
(2) proses-proses yang bekerja dalam pelapukan batuan tersebut, dan
(3) tingkat perkembangan tanah.

Bahan induk tanah mineral berasal dari berbagai jenis batuan induk, sehingga dalam proses pelapukannya akan menghasilkan keragaman mineral tanah yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan yang erat antara komposisi mineral bahan induk dengan komposisi mineral batuannya. Sebagai contoh adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang berasal dari batuan basalt dan granit, akan memiliki komposisi mineral tanah sebagai berikut:
(1) mineral kuarsa,
(2) mineral ortoklas,
(3) mineral mikroklin,
(4) mineral albit
(5) mineral oligoklas,
(6) mineral muskovit,
(7) mineral biotit.
(8) mineral dll.

Pada tanah-tanah yang mudah melapuk dan peka terhadap proses pencucian (leaching), seperti tanah Podzol, ditemujkan mineal yang didominasi hanya jenis mineral: (1) kuarsa, dan (2) ortoklas. Dominasi kedua mineral ini disebabkan karena kedua mineral ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan. Berbeda dengan tanah-tanah yang belum mengalami pelapukan (kurang mengalami pelapukan), maka dalam tanah tersebut masih ditemukan mineral tanah yang beragam dengan komposisi mineral tanah pada setiap lapisan yang hampir seragam.

Berdasarkan keberadaan silikat dalam mineral tanah, maka mineral dalam tanah dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
(1) kelompok mineral silikat, dan
(2) kelompok mineral bukan silikat.



A. Kelompok Mineral Silikat:

Kelompok mineral silikat dibagi lagi menjadi 11 kelompok, yaitu:

(1) Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mineral Liat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mineral liat adalah:
(1.1) Mineral Liat Kaolinit {Si4Al4O10(OH)4}
(1.2) Mineral Liat Vermikulit {AlMg5(OH)12(Al2Si6)}
(1.3) Mineral Liat Klorit {AlMg5O20(OH)4}
(1.4) Mineral Liat Montmorillonit

(2) Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mika:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mika adalah:
(2.1) Mineral Muskovit {K2Al2Si6Al4O20(OH)4}
(2.2) Mineral Biotit {K2Al2Si6(Fe++,Mg)6.O20(OH)4}

(3) Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Serpentin:
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok serpentin adalah:
(3.1) Mineral Serpentin {Mg3Si2O5(OH)4}

(4) Struktur Kristal Silikat Kerangka Feldsfar:Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kerangka feldsfar adalah:
(4.1) Mineral Alkali Feldsfar {(Na,K)2O.Al2O3.6SiO2}
(4.2) Mineral Plagioklas (Na2O.Al2O3.6SiO2)

(5) Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Piroksin:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok piroksin adalah:
(5.1) Mineral Enstatit (MgO.SiO2)
(5.2) Mineral Hipersten {(Mg,Fe)O.SiO2}
(5.3) Mineral Diopsit (CaO.MgO.2SiO2)
(5.4) Mineral Augit {CaO.2(Mg,Fe)O.(Al,Fe)2O3.3SiO2}

(6) Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Amfibol:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok amfibol adalah:
(6.1) Mineral Hornblende {Ca3Na2(Mg,Fe)8(Al.Fe)4.Si14O44(OH)4}
(6.2) Mineral Termolit {2CaO.5(Mg,Fe)O.8SiO2.H2O}

(7) Struktur Kristal Silikat Kelompok Olivin:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok olivin adalah:
(7.1) Mineral Olivin {2(Mg,Fe)O.SiO2}
(7.2) Mineral Titanit (CaO.SiO2.TiO2)
(7.3) Mineral Tormalin (Na2O.8FeO.8Al2O3.4B2O3.16SiO2.5H2O)
(7.4) Mineral Sirkon (ZrO2.SiO2)

(8) Struktur Kristal Silikat Kelompok Garnet:
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok garnet adalah:
(8.1) Mineral Almandit (Fe3Al2Si3O12)

(9) Struktur Kristal Silikat Kelompok Epidol:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok epidol adalah:
(9.1) Mineral Soisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)
(9.2) Mineral Klinosoisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)
(9.3) Mineral Epidot (4CaO.3(Al,Fe)2ยบ3.6SiO2.H2O)

(10) Struktur Kristal Silikat Orto dan Cincin:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat orto dan cincin adalah:
(10.1) Mineral Klanit (Al2O3.SiO2)
(10.2) Mineral Silimanit (Al2O3.SiO2)

(11) Struktur Kristal Silikat:
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat adalah:
(11.1) Mineral Andalusit (Al2O3.SiO2)



B. Kelompok Mineral Bukan Silikat:

Kelompok mineral bukan silikat dibagi lagi menjadi 6 kelompok, yaitu: (1) mineral fosfat, (2) mineral karbonat, (3) mineral klorit, (4) mineral sulfat, (5) mineral hidroksida, dan (6) mineral oksida. Contoh mineral tanah yang termasuk keenam kelompok mineral bukan silikat ini disajikan sebagai berikut:

(1) Mineral Fosfat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral fosfat adalah:
(1.1) Mineral Apatit {Ca4(CaF)(PO4)3} atau {Ca4(CaCl)(PO4)3}

(2) Mineral Karbonat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral karbonat adalah:
(2.1) Mineral Kalsit (CaCO3)
(2.2) Mineral Dolomit {(Ca, Mg)CO3}

(3) Mineral Klorit:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral klorit adalah:
(3.1) Mineral Halit (NaCl)

(4) Mineral Sulfat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral sulfat adalah:
(4.1) Mineral Gipsum (CaSO4.2H2O)
(4.2) Mineral Jarosit {KFe3(OH)6(SO4)2}

(5) Mineral Hidroksida:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral hidoksida adalah:
(5.1) Mineral Gibsit {Al(OH)3}
(5.2) Mineral Buhmit {Gamma – Al.O(OH)}
(5.3) Mineral Gutit {Alfa – FeO.OH}
(5.4) Mineral Lepidokrosit {Gamma – FeO.OH}

(6) Mineral Oksida:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral oksida adalah:
(6.1) Mineral Hematit (Fe2O3)
(6.2) Mineral Ilmenit (FeO.TiO2)
(6.3) Mineral Rutil (TiO2)
(6.4) Mineral Anatase (TiO2)
(6.5) Mineral Brokit (TiO2)
(6.6) Mineral Magnetik (Fe3O4)


Akbar_04_Ilmu_Tanah_UNLAM

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com

KEMASAMAN TANAH

Bab ini akan menyajikan bahasan tentang:
1. Pengaruh Negatif dari Kemasaman Tanah terhadap Pertumbuhan Tanama,

2. Konsep Kemasaman Tanah,
3. Faktor Penyebab Terjadinya Pengasaman Tanah,
4. Pengukuran pH tanah, dan
5. Upaya Perbaikan Terhadap Kemasaman Tanah.

Kemasaman Tanah
Pada daerah iklim Tropis Basah, pengasaman tanah adalah proses alamiah (natural).
Kemasaman tanah merupakan salah satu masalah utama bagi pertumbuhan tanaman.
Pada tanah bereaksi atau pH sangat masam, yaitu pH lebih rendah dari 4,5, maka dalam sistem tanah akan terjadi perubahan kimia sebagai berikut:
(a) Aluminium menjadi lebih larut dan beracun untuk tanaman.
(b) Sebagian besar hara tanaman menjadi kurang tersedia bagi tanaman, sedangkan beberapa hara mikro menjadi lebih larut dan beracun.
Masalah-masalah ini tersebar luas di daerah tropis basah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Menurut Sanchez dan Logan (1992), bahwa sepertiga dari daerah tropis, atau 1,7miliar hektar, adalah tanah bereaksi asam dengan tingkat kelarutan aluminium cukup tinggi sehingga menjadi racun bagi tanaman.
Kita akan mengkaji beberapa penyebab pengasaman tanah dan mengetahui teknologi pengapuran untuk menetralisasi asam.

Ad 1. Pengaruh Negatif dari Kemasaman Tanah terhadap Tanaman
Kemasaman tanah dapat menyebabkan permasalahan sbb:
1. penurunan ketersediaan unsur hara bagi tanaman;
2. meningkatkan dampak unsur beracun;
3. penurunan hasil tanaman;
4. mempengaruhi fungsi penting biota tanah yang bersimbiosis dengan tanaman seperti fiksasi nitrogen oleh Rhizobium.


Konsep Kemasaman Tanah
Konsep Kemasaman Tanah adalah salah satu prinsip dasar kimia tanah yang mengindikasikan reaksi tanah. Tanah bereaksi netral jika ber pH 7,0. Jika pH tanah > 7,0 merupakan tanah bereaksi basa atau disebut tanah alkali. jika pH tanah lebih rendah dari 7,0 disebut tanah masam.
Kedua kondisi ekstrem, yaitu: terlalu asam dan terlalu basa merupakan kondisi yang sangat merugikan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Akan tetapi, ada beberapa reaksi kimia di alam yang terjadi dalam kondisi pH netral.

Kriteria Kemasaman Tanah (pH)
Pengelompokan kemasaman tanah berbeda dengan pengelompokkan terhadap sifat kimia tanah lain, karena untuk kemasaman tanah (pH) dikelompokkan dalam enam kategori berikut:
1. Sangat Masam untuk pH tanah lebih rendah dari 4,5
2. Masam untuk pH tanah berkisar antara 4,5 s/d 5,5
3. Agak Masam untuk pH tanah berkisar antara 5,6 s/d 6,5
4. Netral untuk pH tanah berkisar antara 6,6 s/d 7,5
5. Agak Alkalis untuk pH tanah berkisar antara 7,6 s/d 8,5

6. Alkalis untuk pH tanah lebih besar dari 8,5.

Ad 2. Faktor Penyebab Terjadinya Kemasaman Tanah
Air Hujan
Ada kekhawatiran tentang hujan asam, tetapi hampir semua hujan adalah ber pH rendah (asam). Air Hujan murni yang tidak mengandung bahan pencemar pada dasarnya adalah air distilasi. Air hujan ini yang dalam kesetimbangan dengan atmosfer akan memiliki pH sekitar 5,6 karena pelarutan karbon dioksida di dalam air.
Ketika air hujan murni berada dalam kesetimbangan dengan karbon dioksida, maka konsentrasi ion hidrogen yang dihasilkan menyebabkan pH 5,6.

Respirasi Akar
Tanaman juga menghasilkan karbon dioksida karena proses respirasi akar, dan selama periode pertumbuhan aktif akar dapat menyebabkan karbon dioksida di tanah yang konsentrasinya lebih tinggi beberapa kali dari di atmosfer, sehingga terjadi peningkatan jumlah karbon dioksida terlarut dalam air tanah dan menyebabkan peningkatan keasaman tanah atau pH menjadi lebih rendah.

Pupuk
Karbon dioksida bukan satu-satunya sumber ion hidrogen dalam tanah, namun. Pada tanah yang dikelola, pupuk dapat menjadi sumber utama ion hidrogen.

Faktor Pupuk (Pupuk Amonium dan Pupuk Mono Kalsium Fosfat).
Pupuk Amonium
pupuk modern biasanya menggunakan amonium sebagai sumber nitrogen, akan tetapi oksidasi ammonium dihasilkan ion nitrat dan ion hidrogen sehingga menyebabkan pengasaman tanah.
Dengan kata lain, dua atom hidrogen dihasilkan setiap molekul ammonium teroksidasi.

Pupuk Mono Kalsium Fosfat
Monocalcium fosfat yang sering digunakan sebagai salah satu komponen pupuk juga menjadi faktor penyebab terjadinya proses pengasaman tanah (meskipun lebih rendah daripada amonium). Senyawa ini akan terhidrolisis dalam air membentuk fosfat bikalsium dan Asam fosfat

Asam fosfat terdisosiasi sangat cepat seiring dengan peningkatan pH dari 3,0 menjadi lebih dari 7.0.
Secara umum ion hidrogen (H+) ketiga tersebut akan terlarut pada pH di atas netral, sehingga tidak termasuk faktor penyebab pengasaman tanah. Akan tetapi, kedua ion hidrogen ( H+) yang sudah terlarut dalam kisaran pH tanah asam, termasuk faktor penyebab kemasaman tanah.
Ketika pupuk fosfor diberikan dalam lubang tugal, maka H3PO4 terdisosiasi dalam tanah sehingga terjadi nilai pH yang sangat rendah didekat pupuk tersebut. Tingkat keasaman ini akan secara bertahap menyebar ke dalam tanah sekitar lokasi pupuk. Menurut
Lindsay dan Stephenson (1959), nilai pH 1,5 dapat ditemukan segera di zona sekitar pupuk tersebut.

Faktor Reaksi Oksidasi yang Menghasilkan Ion Hidrogen
Semua reaksi oksidasi dalam tanah yang menghasilkan ion hidrogen dapat menyebabkan terjadinya pengasaman tanah.
Salah satu reaksi pengasaman paling efektif adalah oksidasi sulfur anorganik. Belerang biasanya digunakan jika tanah memiliki pH lebih tinggi dari yang diinginkan, sehingga diperlukan upaya penurunan pH tanah.
Misalnya, Reaksi oksidasi pirit yang terjadi pada tanah rawa yang diangkat sehingga terjadi reaksi oksidasi dari pirit tanah tersebut.
Setiap ion S dihasilkan 2 ion Hidrogen

Bahan Organik
Berbagai macam Bahan Organik juga dapat menyebabkan pengasamkan tanah. Kemampuan pengasamannya tergantung pada jenis tanaman sebagai sumber bahan organik tersebut.

Beberapa tanaman mengandung asam organik dalam jumlah yang sangat berbeda dengan tanaman lainnya.
Asam organik hasil dekomposisi bahan organik menyebabkan pengasaman tanah.
Bahan organik yang berasal dari tanaman dengan kandungan basa-basa rendah juga menyebabkan terjadinya sedikit pengasaman tanah. Bahan organik yang berasal dari tanaman dengan kandungan basa-basa kurang mencukupi kebutuhan mikrobia pendekomposernya, menyebabkan mikrobia tersebut menyerap basa-basa keperluannya dari sistem tanah, sehingga basa-basa tanah seperti kalsium dan magnesium terkuras dari tanah maka menyebabkan terjadinya pengasaman tanah.

Tanaman
Pertumbuhan tanaman juga berkontribusi dalam pengasaman tanah, proses penyerapan hara utama (kalium, kalsium dan magnesium) disertai pertukaran dengan ion hidrogen sehingga menyebabkan terjadinya pengasaman tanah.
Jenis Tanaman tertentu juga mempengaruhi pengasaman tanah. Contohnya adalah tanaman Legumninosa. Selama masa pertumbuhan tanaman Leguminosa terjadi penyerapan anion dan kation dengan perbandingan yang tidak seimbang, sehingga lebih mengasamkan tanah. Tanaman leguminosa menyerap hara nitrogen dari hasil fiksasi mikrobia yang bersimbiosis dengannya. Tanaman non-leguminosa menyerap nitrogen dari sistem tanah dan penyerapan ini dalam kondisi yang seimbang dengan penyerapan kation-kation basa, sehingga lebih sedikit pertukaran dengan ion hidrogen, maka sedikit menyebabkan pengasaman tanah.
Hujan Asam
Hujan asam juga memberikan kontribusi dalam proses pengasaman tanah. Dalam sistem tanah kontribusi dari hujan asam relatif rendah dibandingkan dengan pengaruh dari pasir sesquioxida yang bersifat sangat asam yang kapasitas tukar kation sangat rendah. Akan tetapi banyak tanaman sangat peka terhadap pengaruh dari hujan asam.



Ad 3. Pengukuran pH Tanah

Reaksi tanah atau pH tanah merupakan ukuran kemasaman tanah atau kebasaan tanah.
Tanah ber pH 7 adalah tanah bereaksi netral, tanah ber pH > 7 adalah tanah bereaksi basa dan tanah ber pH lebih rendah dari 7 merupakan tanah bereaksi asam atau yang dikenal sebagai tanah masam (acid soils).
Reaksi tanah atau pH tanah dapat diukur baik dengan menggunakan pelarut air (pHw) atau bisa juga dengan menggunakan pelarut kalsium klorida (pHCa), sehingga pH hasil pengukuran akan bervariasi tergantung dari metode pelarut yang digunakan.
Sebagai aturan umum, Nilai pH yang diukur dengan pelarut kalsium klorida adalah lebih rendah 0,7 satuan unit pH daripada nilai pH yang diukur dengan pelarut air (Gambar 2).

Ketika laboratorium mengukur pH tanah Anda, maka sangatlah penting diketahui bahwa mereka menetapkan dengan menggunakan metode pelarut air atau pelarut kalsium klorida karena hasil penetapan pH dari kedua metode tersebut akan berbeda.
.
Untuk tanah yang bereaksi asam, pilihan pengelolaan yang paling praktis adalah menambahkan kapur untuk mempertahankan status pH tanah saat ini atau meningkatkan pH tanah lapisan atas (top soil)..


 Akbar_04_Ilmu_Tanah_UNLAM